Selasa, 18 November 2014

Cerpen nihhhh;)

WAITING FOR SOMETHING
Cerpen Fiksi Karya : Husnun Kamila
@HKamilaa_


Gimana ya perasaannya saat kita ‘jatuh hati’ atau ‘jatuh cinta’ kepada seseorang yang memang dari sejak kecil selalu bersama? Dan mungkin kita sangat takut untuk mengungkapkan kepadanya, karena memang ikatan batin diantara kita sangat kuat. Kalau kita mengungkapkannya, mungkin kita takut ia akan pergi, ia akan marah atau mungkin ia tidak akan mau kenal lagi dengan kita?

Nah, itulah yang saat ini dirasakan oleh seorang laki-laki tampan yang sedang ingin mengutarakannya kepada seorang gadis yang tak lain adalah sahabatnya sejak kecil. Iya sejak kecil, sejak mereka bayi. Bahkan mereka lahir secara bersamaan namun dari keluarga yang berbeda, maka dari itu mereka bersahabat sampai si lelaki ini ‘jatuh cinta’ kepada sahabatnya. Yang ada difikiran laki-laki ini adalah apa yang terjadi jika ia mengatakan yang sesungguhnya ia rasakan saat ini? Apa yang terjadi apabila ia jujur? Apa mungkin sahabatnya itu juga mempunyai perasaan yang sama sepertinya? Ya, semoga saja.

Sore itu, sang lelaki tampan ini berniat untuk mengutarakan perasaan yang selama ini ia pendam. Mereka sudah janji akan bertemu ditaman kota pada pukul 17.00 pm.

Sang lelaki sudah berada ditempat bertemu saat pukul 16.30 pm. Karena ia harus menyiapkan mentalnya, menyiapkan segalanya agar ia benar-benar siap untuk mengungkapkan perasaannya yang selama bertahun-tahun ia pendam.

“emm, hai? Sudah lama ya?” Tanya perempuan yang baru saja sampai ditaman kota tersebut, ia bertanya kepada laki-laki yang sedang duduk dibangku taman yang memang ia ketahui sang lelaki sedang menunggunya.

Lelaki itu menoleh kebelakang dan ternyata gadis yang ia tunggu sudah berada dibelakangnya, dengan memberikan senyum, “eh, iya hai.. enggak ko, baru. Ayo duduk sini,” jawabnya sangat lembut sekali.

Gadis itu hanya tersenyum dan segera duduk disamping lelaki yang sudah duduk sedari tadi. Saat ini mereka hanyalah ditemani dengan keheningan.

“oh iya, eee.. a..da yang gu..gue mau omongin sama lo ra,” gadis itu Tiara, gadis yang cantik, tinggi, rambut yang sedikit piring, mata yang indah dan kulit sawo matang yang menambah terlihat manis. sangat dekat dengan sempurna.

Tiara hanya tersenyum, senyuman manis nan indah yang hanya dimiliki Tiara, “ngomong apa thir?” dan pria yang ada disamping tiara saat ini itu bernama fathir, sahabat kecilnya Tiara yang tampan, manis, tinggi dan kulit yang putih. Sebelum ada yang memulai bicara, mereka hanya saling menatap ditemani oleh keheningan.
‘lo harus bisa, lo harus bisa. Dan lo pasti bisa thir’ batin fathir teriak, seakan menyemangati dirinya sendiri, “gu..gu..gue...” fathir bicara dengan sangat gugup karena ketakutan itu seakan-akan sudah berada dihadapan fathir, sesekali ia menelan ludahnya sendiri, ‘ah, shit! Susah banget sih!’ batinnya lagi yang bicara.

“lo kenapa?” tanya Tiara antusias, ia sangat penasaran apa kelanjutan dari yang fathir bicarakan?

Fathir tertegun mendengar suara Tiara yang begitu lembut,”emm... gu..gue. su..ka. sama. Lo.” Dan akhirnya, kalimat tersebut itu pun keluar dengan gugupnya, Tiara hanya memandang fathir dengan wajah yang sama sekali fathir tidak tau, apa arti tatapan Tiara saat ini? Apa ia marah? Matanya sudah mulai berkaca-kaca, seakan buliran permata cair itu akan turun membasahi pipi gadis yang ada dihadapannya sekarang.

“ma..maaf, gue tau ko seharusnya gue gak..gak seharusnya gue punya perasaan itu ke elu, dan seharusnya gue gausah ngomong sejujurnya sama lo, maafin gue. Gue tau ini tuh salah gue,” Jelas Fathir karena tak ingin Tiara, sahabatnya serta gadis yang ia cintai itu marah kepadanya dan menjauh darinya.

Pipi Tiara saat ini pun sudah dibanjiri oleh butiran mutiara putih cair yang berasal dari mata indahnya namun ia masih tetap menatap Fathir dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Ada apa sebenarnya? Kenapa Tiara menangis? Fathir membalas tatapan Tiara, karena ia tahu pasti ada sesuatu yang ingin Tiara sampaikan kepadanya.

Selang beberapa menit setelah Fathir mengungkapkan perasaannya itu, tiara mendekap Fathir dan meneggelamkannya didada bidang Fathir, “gu..gue juga punya perasaan yang sama kaya lo, ta....ta...pi..” tangisan tiara semakin menjadi saat ia mendekap Fathir, entah apa yang terjadi sama Tiara.

“tapi apa ra? Kita sama-sama cinta, kita coba jalanin ini ya?” Fathir merenggangkan pelukannya dan menatap nanar Tiara.

Tiara masih menangis dengan sejadi-jadinya hingga ia susah untuk bicara, “ta..tapi... gu..gue gak bisa,” masih dengan keadaan menangis, Tiara langsung berlari kencang meninggalkan Fathir, mungkin ia pulang.

“TIARAAAA!!!!!!!” teriak fathir dengan lantang, dan tanpa disadari Fathir juga mengeluarkan buliran mutiara putih cair itu dari matanya. ‘Tiara kenapa? Ada Apa dengan Tiara? Gue pasti bisa merjuangin Tiara, karena gue juga tau Tiara Cinta sama gue’ batin Fathir seakan sangat ingin mengetahui kenapa Tiara meninggalkannya? Mungkin nanti ia akan kerumah Tiara.
***

Dua hari sudah berlalu dari kejadian yang kemarin terjadi ditaman, dan siang ini Fathir beniat untuk mengunjungi rumah Tiara dan menanyakan apa yang terjadi kemarin?

TINGNOG.... TINGNONG...

Bell yang Fathir tekan itu berbunyi namun masih belum ada orang yang membuka kan pintunya, dan terlihat juga rumah itu sangat sepi seperti tidak berpenghuni.

“kok kaya gak ada orang ya?” sesekali Fathir mengintip isi rumah itu dari sela-sela jendela yang berada dekat dari pintu yang ia tunggu untuk dibukakan oleh sang pemilik rumah,

Akhirnya pintu rumah itu terbuka, namun yang membukanya itu adalah asisten rumah tangga nya bukan sang pemilik rumah, “nyari siapa ya mas?” tanyanya.

“saya mencari Tiara bu, Tiaranya ada?” Fathir menjawab dengan sangat sopan, dan sang asisten itu menatap Fathir dan tatapan itu seperti tatapan kesedihan atau mungkin? Tatapan menginterogasi? Fathir bukanlah orang yang ahli untuk meng-artikan sebuah tatapan dari seseorang.

Asisten rumah tangga itu kemudian tersenyum, “mas siapanya non Tiara? Temennya?” memang benar, seperti maling yang sedang di Interoasi. Pantas saja si, karena Fathir memang sebelumnya tidak pernah main kerumah Tiara, bisa dibilang ini pertama kalinya ia mengunjungi rumah tiara, “emm, iya bu saya temannya.” Jawabnya dengan senyum dibelakang kalimat tersebut.

“oh, non Tiara sudah pergi keParis sejak kemarin sore mas. Memangnya dia tidak pamitan dengan mas?” kata ‘sudah pergi ke Paris sejak kemarin sore’ itu sangat mengagetkan bagi Fathir, ‘kenapa dia gak bilang sama gue?’ pertanyaan itu keluar dari dalam hatinya.

“mas?” tidak ada respon dari Fathir untuk pertama kalinya.
“Mas!” dan yang kedua pun tidak ada respon sama sekali dari Fathir, “MAS!” yap, yang ketiga barusan mampu menyadarkan Fathir dari lamunannya.

Fathir mendongak dan langsung pergi tanpa berpamit terlebih dahulu, ia langsung masuk kedalam mobil sportnya itu dan melajukannya dengan sangat kencang. “dasar anak muda,” cibir sang asisten rumah tangga itu kepada Fathir yang sudah menghilang dari pandangannya.


Disebuah apartemen mewah, tempat untuk keluarga seorang gadis cantik ini sedang melamun dibalkon apartemennya. Apartemen yang berada dikota besar, Paris. Iya, Tiara gadis itu. Ia mengingat apa yang ia lakukan sekarang? Kenapa ia menurut diajak untuk ke Paris? Padahal ia diparis tidak melakukan aktivitas apapun, ia hanya menemani ayah-bunda nya berbisnis dengan kerabatnya disini, diparis.

“bintang, hhhh” bintang? Kebetulan diParis saat ini sudah masuk jam malam maka dari itu terdapat bintang, dan saat Tiara melihat bintang ia jadi mengingat masa-masa kecilnya dengan sang sahabat laki-lakinya, Fathir.

-          Flashback on   -


Malam itu, Tiara dan keluarganya sedang mengadakan acara barbeque bareng dengan keluarga Fathir. Anggota keluarganya sibuk akan apa yang ingin mereka panggang, menyiapkan bahan-bahannya, kebetulan Fathir dengan Tiara adalah anak tunggal jadi ia sangat dekat sekali.

Malam sudah tiba, sudah menunjukkan pukul 21.00 pm. “Tiara, liat deh. Bintang jatuh tuh, kita berdo’a yuk,” mereka pun berdoa yang isinya sama-sama ingin bersama untuk selamanya.

“aku udah do’a dong,” pamer Tiara kepada Fathir, “aku juga, semoga bisa terkabulkan AMIN.” Ucap Fathir yang sedang berusia 5 tahun, dan Tiara pun juga 5 tahun.



-          Flashback Of   -

Pipi Tiara mulai dijatuhi oleh bulir-buliran air yang keluar dari matanya, “Fathir, gue bakal balik ke Indonesia demi kita, iya kita! Karena gue juga sayang sama lo,” Ucapnya sambil menyeka air mata nya yang kini sudah membasahi pipinya, ‘andai disini ada lo, pasti lo udah ngapus air mata gue’ hatinya Tiara bicara seakan ia merindukan sosok Fathir yang selalu ada disampinganya sejak kecil sampai mereka sekarang sudah lulus kuliah dengan gelar S2 dibidang sastra Inggris, “gue janji! Tunggu gue,”sambungnya dengan senyum termanis yang selalu ia berikan kepada Fathir, orang yang ia sayang dan juga ia cintai.


Sementara, Fathir yang berada di Jakarta, Indonesia. Juga sedang menatap bintang dari balkon kamarnya itu. Dan tanpa disadari pun ia meneteskan air matanya lagi, entah untuk yang berapa kali. “Bintang... gue kangen lo Tiara.” Fathir mengucapkannya dengan memejamkan matanya dengan sangat tenang.

-          Flashback on   -


Malam itu, Tiara dan keluarganya sedang mengadakan acara barbeque bareng dengan keluarga Fathir. Anggota keluarganya sibuk akan apa yang ingin mereka panggang, menyiapkan bahan-bahannya, kebetulan Fathir dengan Tiara adalah anak tunggal jadi ia sangat dekat sekali.

Malam sudah tiba, sudah menunjukkan pukul 21.00 pm. “Tiara, liat deh. Bintang jatuh tuh, kita berdo’a yuk,” mereka pun berdoa yang isinya sama-sama ingin bersama untuk selamanya.

“aku udah do’a dong,” pamer Tiara kepada Fathir, “aku juga, semoga bisa terkabulkan AMIN.” Ucap Fathir yang sedang berusia 5 tahun, dan Tiara pun juga 5 tahun.



-          Flashback Of   -

Fathir pun mengakhiri aksinya dibalkon karena sudah malam lalu masuk ke kamar untuk tidur, dan berharap ia mimpi bertemu dingan Tiara dia suatu tempat yang indah.

***

2 Tahun berlalu, singkat cerita. Tiara, yang saat ini sedang berada diParis berniat hari ini untuk pulang ke Indonesia negara kelahirannya. “I’ll comeback Indonesia, and I’ll Cameback for you boy!” Tiara, gadis cantik itu pulang ke Indonesia hanya sendiri karena ayah-bundanya masih harus mengurus bisnis keluarga mereka diParis.

Tiara saat ini sudah didalam pesawat, ia sangat bahagia bisa pulang ke Indonesia karena ia sangat merindukan suasana Indonesia lebih tepatnya Jakarta, kota kelahirannya itu.

Disuatu gedung perusahaan pria tampan ber-Jas hitam itu benar-benar sangat frustasi, frustasi karena apa? Karena pekerjaan yang begitu sulit, dan hal yang lebih berat lagi... ia sangat lelah untuk menunggu gadis yang sudah 2tahun ini ditunggunya. Yes, He waiting someone. Fathir, lelaki itu Fathir.

Dilema besar saat ini sedang mendatangi Fathir, ia ‘Jatuh Cinta’ lagi kepada kerabat kantornya yang bernama Lita, gadis cantik, sexy, tinggi, berwawasan tinggi, dan rambut ombre yang sangatlah indah, bahkan Lita mungkin adalah gadis masa kini yang menjadi idaman kaum adam.

Sudah 3bulan ini Fathir dekat dengan Lita, bahkan mereka sering Jalan, Nonton, makan, hang-out bareng, beruda. Perlu ditekankan, Ber-Du-A.

Mereka sangatlah dekat, Fathir sudah merasa nyaman dengan Lita namun Cintanya terhadap Tiara juga sangatlah besar.

Malam ini, Fathir berniat untuk mengajak Lita Jalan dan mungkin Fathir akan mengutarakan perasaannya kepada Lita karena menurut Fathir, Tiara tidak akan lagi kembali ke Indonesia. Tapi, dugaan Fathir salah.

Tepat jam 19.00 pm Fathir kerumah Lita menggunakan mobil sportnya, Lita sudah keluar dari rumahnya lebih tepatnya Kost-an bukanlah Rumah, karena Lita bukan orang asli Jakarta ia hanya merantau.

“hai, kamu cantik.” Sapa Fathir kepada Lita dengan gaya bahasa aku-kamu. Sedangkan dengan Tiara? Lo-Gue, karena mereka sudah mengenal sejak kecil. Lita, merasa tersanjung dengan ucapan Fathir, dan dia tersipu sehingga pipi kanan kirinya sudah memerah. Sangat lucu kalau seorang gadis sedang digoda.

Fathir terkekeh melihat tingkah Lita yang hanya senyum-senyum gajels tanpa melakukan aksi apa-pun. “ayo, masuk Lit.” Fathir mempersilahkan Lita masuk ke mobilnya dan membukakan pintu Lita seperti halnya Putri-putri sang raja yang keluar dari Istana dan akan memasukkan mobil mewahnya.

“emm, makasih.” Ucapnya dengan senyum manis yang membuat Fathir meleleh, dan sekarang seakan-akan Fathir Lupa dengan Tiara. Iya Tiara sahabat kecilnya.

Selama diperjalanan, mereka –Fathir&Lita- hanya ditemani keheningan dan sesekali Fathir melirik Lita yang memandang kedepan, melihat mobil lalu-lalang dan melihat kemacetan yang sudah menjadi kebiasaan Ibu Kota Indonesia ini.

“Lit..” Fathir memulai pembicaraan ditengah keheningan dan ditengah kemacetan akhirnya terpecahkan, Lita menoleh kearah suara yang memanggilnya dan tersenyum dengan disertakan gumaman lembut, “ada yang mau aku omongin,” sambung Fathir dengan hati-hati.

Lita sekarang menatapnya dengan serius, “apa?” jawabnya singkat dengan mata masih memandang Fathir dengan serius.

“emm, aku suka sama kamu. Will you be my girl friend?” Untung saja saat ini masih ditengah kemacetan, jadi dengan leluasa Fathir bisa mengungkapkan perasaannya dengan menggenggam kedua tangan lembut milik Lita.

Lita tersenyum dan tidak lama dari itu pun ia mengangguk pelan, “iya, aku mau. Yes, I do.” Jawabnya lantang dan pasti. Saat ini Lita sudah berada didekapan Fathir, sang kekasihnya. Dan Fathir dan Lita saat ini resmi menjadi sepasang kekasih.


“WELCOME INDONESIA!!!!!!” teriak Tiara dengan kedua tangannya dilebarkan ke kanan dan kiri seakan ia baru keluar dari penjara dan rindu akan menghirup udara segar. Tiara langsung mengotak-ngatik ponselnya dan mencari kontak bernama ‘Fathir :*’ sejak diParis, ia tidak pernah memegang ponselnya. Dan setelah ketemu ia langsung menelponnya dengan senyum yang mengembang,

Nomer yang anda tuju berada diluar jangkauan atau tidak aktif cobalah beberapa saat lagi,”

Begitulah suara yang Tiara dengar hingga senyumnya memudar terganti dengan wajah sedih, “dia ganti nomer? Udah lupa kali ya sama gue” Tiara bicara sendiri kepada dirinya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, namun sebelum air itu meluber ia segera menyekanya dan mengembalikan senyumnya yang saat itu juga luntur, “Jangan negativ thinking Ra, keep calm.” Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

Ia memberhentikan Taxi dari bandara dan ia tidak langsung kembali kerumahnya, tapi ia kesuatu cafe untuk sekedar makan makanan ringan dan minum floatcola atau semacamnya itulah.

Perjalanan dari bandara menuju cafe lumayan jauh, bisa menempuh waktu 2jam. Karena kemacetan juga, kalau tidak macet mungkin bisa ditempuh dengan waktu 1 jam lebih 30menit.

Selama diTaxi, Tiara hanya melihat luar jendela. Melihat kemacetan, “Kalau diparis pasti tidak macet, Indonesia” dia terkekeh dengan ucapannya sendiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.


Sementara Fathir ia sedang tertawa bahagia, bercanda bersama gadis yang sudah menjadi kekasihnya sekarang, Lita. Mereka pasangan baru, yang masih hangat dan masih romantis. Sesekali mereka saling suap-meyuap makanan yang mereka pesan, bahkan Fathir sesekali mencubit hidung Lita yang mancung itu.

Lita juga merasakan hal yang sama dengan Fathir, rasa bahagia, senang, campur aduk banget. “ini, kamu cobain.” Kata Lita sambil menyodorkan kwetiau goreng yang ia pesan ke mulut Fathir, dan Fathir pun menurutinya ia membuka mulutnya dan menelan kwetiau yang disuapi oleh Lita barusan, “gimana? Enak kan?” Fathir hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan Lita barusan.

Fathir sesekali meminum minuman yang ia pesan dan melirik Lita yang sangat lahap menyantap makanan yang ia pesan, Lita berkpribadian yang sangat Lucu dan dia apaadanya. Itu yang membuat Fathir ‘jatuh Cinta’ kepadanya. Namun disisi lain, Fathir masih mengingat-ngingat Tiara, ia masih ‘waiting’ Tiara. Tapi kapan Tiara kembali ke Indonesia?.


***

Keesokan harinya seperti biasa Fathir menjemput Lita untuk berangkat ke Kantor bersama, “Hai, selamat pagi sayang,” Ucap Fathir sambil mencium kening Lita dengan lembut.

“Iya, Pagi juga sayang. Udah sarapan?” gaya bahasa mereka berganti menjadi ‘sayang’ maklum saja, pasangan baru.

Fathir mengangguk pelan lalu tersenyum dan dengan segera ia membukakan pintu mobilnya untuk Lita, kebiasaannya memang seperti ini. “Kita langsung ke Kantor?” Fathir bertanya kepada Lita sambil melihat arlojinya yang sedang menggelantung dilengannya. Lita mengangguk dan tersenyum tipis.

Diperjalanan mereka sangat asik mengobrol, bercandaria bahkan tertawa lepas. Pasangan yang bahagia, namun ditengah kemacetan. Fathir seperti melihat Tiara yang sedang berada didalam Taxi, hingga dia terkaget, ‘itu Tiara? Apa benar?’ batinnya bertanya-tanya.

“kamu liat apa sayang?” Fathir terkaget saat mendengar suara, ia lupa bahwa sekarang ia sedang bersama Lita, kekasihnya. Fathir menggeleng dan tersenyum getir. Macet sudah terlewati dan sekarang jalanan yang mereka lewati sangat lancar. Dan keheninganpun muncul.

Fathir masih teringat-ingat wajah Tiara, dan apa yang diTaxi tadi Tiara? Atau hanya halusinasinya saja karena ia sangat rindu terhadap Tiara? Tapi tidak mugkin, itu memang Tiara. Dan Tiara sudah pulang dari Paris sejak kemarin malam.

Mereka sudah sampai dikantor, dan jalan terpisah setelah naik lift ke lantai 4. Karena ruangan mereka berbeda, Fathir kearah kanan sedangkan Lita kearah Kiri.

Didalam Taxi, gadis cantik berambut pirang ini tiba-tiba menangis. Entah apa yang ia tangisi. “Tadi Fathir? Bersama siapa dia?” ucapnya pelan nyaris tak terdengar, ternyata gadis itu Tiara. Gadis yang berada didalam Taxi itu melihat Fathir dan mengikuti Fathir sampai kantornya dan ia melihat Fathir menggandeng gadis lain yang ia tak kenal, ‘apa itu kekasihnya?’ batinnya seakan ingin teriak, karena ia kembali ke Indonesia itu untuk Fathir. Namun? Fathir sudah menggandeng gadis lain? Sakitnya tuh disini *tunjuk dada*

“pak, ke jalan cempaka nomer 5  ya.” Ucapnya sambil sesenggukkan, ia masih belum terima.

-          Flashback On  -

“emm, hai? Sudah lama ya?” Tanya perempuan yang baru saja sampai ditaman kota tersebut, ia bertanya kepada laki-laki yang sedang duduk dibangku taman yang memang ia ketahui sang lelaki sedang menunggunya.

Lelaki itu menoleh kebelakang dan ternyata gadis yang ia tunggu sudah berada dibelakangnya, dengan memberikan senyum, “eh, iya hai.. enggak ko, baru. Ayo duduk sini,” jawabnya sangat lembut sekali.

Gadis itu hanya tersenyum dan segera duduk disamping lelaki yang sudah duduk sedari tadi. Saat ini mereka hanyalah ditemani dengan keheningan.

“oh iya, eee.. a..da yang gu..gue mau omongin sama lo ra,” gadis itu Tiara, gadis yang cantik, tinggi, rambut yang sedikit piring, mata yang indah dan kulit sawo matang yang menambah terlihat manis. sangat dekat dengan sempurna.

Tiara hanya tersenyum, senyuman manis nan indah yang hanya dimiliki Tiara, “ngomong apa thir?” dan pria yang ada disamping tiara saat ini itu bernama fathir, sahabat kecilnya Tiara yang tampan, manis, tinggi dan kulit yang putih. Sebelum ada yang memulai bicara, mereka hanya saling menatap ditemani oleh keheningan.
‘lo harus bisa, lo harus bisa. Dan lo pasti bisa thir’ batin fathir teriak, seakan menyemangati dirinya sendiri, “gu..gu..gue...” fathir bicara dengan sangat gugup karena ketakutan itu seakan-akan sudah berada dihadapan fathir, sesekali ia menelan ludahnya sendiri, ‘ah, shit! Susah banget sih!’ batinnya lagi yang bicara.

“lo kenapa?” tanya Tiara antusias, ia sangat penasaran apa kelanjutan dari yang fathir bicarakan?

Fathir tertegun mendengar suara Tiara yang begitu lembut,”emm... gu..gue. su..ka. sama. Lo.” Dan akhirnya, kalimat tersebut itu pun keluar dengan gugupnya, Tiara hanya memandang fathir dengan wajah yang sama sekali fathir tidak tau, apa arti tatapan Tiara saat ini? Apa ia marah? Matanya sudah mulai berkaca-kaca, seakan buliran permata cair itu akan turun membasahi pipi gadis yang ada dihadapannya sekarang.

“ma..maaf, gue tau ko seharusnya gue gak..gak seharusnya gue punya perasaan itu ke elu, dan seharusnya gue gausah ngomong sejujurnya sama lo, maafin gue. Gue tau ini tuh salah gue,” Jelas Fathir karena tak ingin Tiara, sahabatnya serta gadis yang ia cintai itu marah kepadanya dan menjauh darinya.

Pipi Tiara saat ini pun sudah dibanjiri oleh butiran mutiara putih cair yang berasal dari mata indahnya namun ia masih tetap menatap Fathir dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Ada apa sebenarnya? Kenapa Tiara menangis? Fathir membalas tatapan Tiara, karena ia tahu pasti ada sesuatu yang ingin Tiara sampaikan kepadanya.

Selang beberapa menit setelah Fathir mengungkapkan perasaannya itu, tiara mendekap Fathir dan meneggelamkannya didada bidang Fathir, “gu..gue juga punya perasaan yang sama kaya lo, ta....ta...pi..” tangisan tiara semakin menjadi saat ia mendekap Fathir, entah apa yang terjadi sama Tiara.

“tapi apa ra? Kita sama-sama cinta, kita coba jalanin ini ya?” Fathir merenggangkan pelukannya dan menatap nanar Tiara.

Tiara masih menangis dengan sejadi-jadinya hingga ia susah untuk bicara, “ta..tapi... gu..gue gak bisa,” masih dengan keadaan menangis, Tiara langsung berlari kencang meninggalkan Fathir, mungkin ia pulang.

“TIARAAAA!!!!!!!” ucap fathir dengan lantang, dan tanpa disadari Fathir juga mengeluarkan buliran mutiara putih cair itu dari matanya. ‘Tiara kenapa? Ada Apa dengan Tiara? Gue pasti bisa merjuangin Tiara, karena gue juga tau Tiara Cinta sama gue’ batin Fathir seakan sangat ingin mengetahui kenapa Tiara meninggalkannya? Mungkin nanti ia akan kerumah Tiara.

-          Flashback Off -


Siang itu tepat pukul 13.00 pm, Lelaki ini, Fathir berniat untuk kerumah Tiara. Fikirnya mungkin Tiara sudah kembali ke Indonesia.

‘Ting.....Nongg....’ suara belnya sudah ganti, karena 2tahun yang lalu bunyinya tidak seperti ini.

‘Cklek’ Pintu terbuka, dan benar saja yang membuka adalah gadis yang selama ini ia tunggu. Tanpa menunggu waktu lama, Fathir segera mendekap Tiara dengan erat, “akhirnya lo balik juga, gue nunggu lo ra, gue kangen lo,” ucapnya dengan nada yang bergetar.

Tiara merenggangkan pelukan Fathir, membuat Fathir mengangkat alisnya sebelah. “ngapain lo kesini?” ucapnya begitu jutek, berbeda dengan Tiara yang dulu.

“l...lo enggak kangen sama gu..gue?” ucapnya kembali gugup seperti dulu.

Tiara hanya menatapnya tajam, ‘gue kangen sama lo, tapi.. perempuan itu? Siapa? Perempuan yang lo gandeng kemarin?’ batinnya meledak, dan ingin menanyakan perihal itu kepada sang lelaki.

“Ra, lo kenapa ko berubah?” ucap Fathir heran sehingga kedua alisnya beradu. Taiar tetap menatapnya dengan tajam, “lo kangen sama gue? Bulshit!” ucapnya dengan nada setinggi 7oktaf, suarnya meninggi Fathir hanya meringis aneh dengan perkataan Tiara dan tingkah laku Tiara sekarang.

“Lo kenapa si Ra?” bahkan Fathir tidak dipersilahkna masuk kedalam rumahnya, Tiara melipat kedua tangannya tepat didada dengan tatapan tajam kepada Fathir. “gue? Kenapa? Fikir dong! Gue kesini buat lo, tapi kemarin gue liat lo mesra-mesraan dengan cewe lain? Gitu kelakuan lo?” Tangisan tiara meledak dan semua unek-uneknya pun keluar.
Fathir hanya menatap sendu Tiara yang sekarang sedang menangis, “maaf, maafin gue Ra. Gue salah, tapi gue masih Cinta sama lo. Itu yang bikin gue ragu sama dia ---Lita---, dan sekarang lo balik, gua akan akhirin hubungan gue sama dia sekarang.” Katanya sambil mengambil ponselnya dari saku celana dan mencari kontak ‘Lita’ lalu segera menelponnya.

Tiara hanya menatapnya dengan air mata yang masih mengalir deras dipipi-nya.

“Hallo..” suara Fathir getar. Dan sedikit terdengar suara gadis dari sebrang sana yang menjawab sapaan Fathir barusan.

“iya, ada apa ya?”

“Gini ta, gue mau hubungan kita sampai sini aja ya. Maaf sebelumnya, gue gamau nyakitin lu makanya gue mau kita bersahabat aja, gapapakan?”

Lita memang gadis dewasa yang mengerti akan hal Cinta, bahkan saat hubungannya dikhiri ia masih bisa tertawa, berbeda dengan Tiara gadis manja namun mampu membuat Fathir rela menunggunya selama bertahun-tahun demi Cinta yang abadi.

Akhirnya Fathir dan Lita resmi putus setelah seminggi ia menjalin, merajut kasih bersama. Dan sekarang Fathir bahagia bersama Tiara.

“will you marry me?” pertanyaan itu, mampu mengubah tangis sedih Tiara menjadi tangis haru bahagianya, dengan cepat ia mengangguk dan tersenyum, “yes, I do. I can!” jawabnya tegas namun masih terbata-bata karena tangisannya makin meledak.

Dan sekarang Fathir dan Tiara bahagia karena persahabatan yang mereka bangun dari kecil, menjadi Istana yang sangat megah sekarang. Kebahagiaan itu terasa sekali jika kita bersama dengan orang yang kita sayang.

Bahagia itu diri kita sendiri yang menentukan bukan mereka, dia atau orang lain. Buatlah dirimu bahagia, sebahagia mungkin dengan orang yang kamu sayangi.’


-SELESAI-

SAHABAT


Haiiiii:)
mau bahas tentang persahabatan nih, ini postingan pertama aku loh:)
lihat foto diatas? alay-alay yah :D ya maklum aja itu masih SMP masih jaman yang ngealay alay gitu deh.. mau dikenalin gak satu satu? pasti mau dong??
yang paling depan itu namanya Diah Rizky Anggraeni, aku kenal sama diah waktu kelas 2smp dan bersahabat dengannya sejak itu pula.
terus yang melet sambil peace itu namanya Eka Setianingsih kalo sama eka aku kenal dari kecil :D sd aja bareng wkwk tapi sahabatan sama dia sejak 2smp juga si hihihi
dan yang paling belakang itu namanya Adetya Savitri dia juga sahabat aku lohhh, aku kenal dia waktu kelas 2smp juga:D

kalian tau gak sih yang dimaksud sahabat itu apa?

paling ada yang jawab gini : ada disaat susah dan senang, yekan? hahahaha

kalo menurut aku sih ya sahabat itu bukan cuma ada disaat susah dan senang tapi sahabat itu bagaikan keluarga kedua untukku, tempat persinggahan, tempat keluhkesah, tempat berbagi, tempat saling ngetawain diri sendiri dan juga yang namanya sahabat tuh kalo kita lagi dijalan yang salah pasti mereka bakal nampar kita bukannya malah membuat kita jadi buah bibir:3 jangan bilang sahabat kalo masih ngomongin kejelekan sahabatnya dari belakang! kalo mau ngomong dari depan.

Sahabat juga bukan yang manggil kita dengan kata yang lembut, atau bahkan sering muji kita. sahabat itu yang biasa manggil kita dengan sebutan-sebutan konyol, entah itu kata kasar atau apalah ya namanya juga sahabat. daripada muji-muji kita didepan doang? tau-tau dibelakang mereka ngomongin kejelekan kita. duhilaahhhhhhh~ yakelessss itu sahabat?

okey, buat remaja-remaja jaman sekarang nih ya hati-hati loh dalam bergaul dan memilih teman. jangan liat dari tampang doang. tampang angle tapi kalo hati devil gimana? hayooohhhh 

'Don't Judge people by the cover' okey? cover tuh ga ngejamin guys. mending nyari sahabat tuh yang emang nyablak jangan yang diem-diem tau kuning :D ya you know what i mean lah :D

okey segitu dulu ya maaf gajelas, cuma isengiseng doang kok;) 
follow twitterku yah @HKamilaa_ thankyou guysssssss:)