WAITING FOR SOMETHING
Cerpen Fiksi Karya : Husnun Kamila
@HKamilaa_
Gimana ya perasaannya saat kita ‘jatuh hati’ atau ‘jatuh
cinta’ kepada seseorang yang memang dari sejak kecil selalu bersama? Dan
mungkin kita sangat takut untuk mengungkapkan kepadanya, karena memang ikatan
batin diantara kita sangat kuat. Kalau kita mengungkapkannya, mungkin kita
takut ia akan pergi, ia akan marah atau mungkin ia tidak akan mau kenal lagi
dengan kita?
Nah, itulah yang saat ini dirasakan oleh seorang laki-laki
tampan yang sedang ingin mengutarakannya kepada seorang gadis yang tak lain
adalah sahabatnya sejak kecil. Iya sejak kecil, sejak mereka bayi. Bahkan
mereka lahir secara bersamaan namun dari keluarga yang berbeda, maka dari itu
mereka bersahabat sampai si lelaki ini ‘jatuh cinta’ kepada sahabatnya. Yang
ada difikiran laki-laki ini adalah apa yang terjadi jika ia mengatakan yang
sesungguhnya ia rasakan saat ini? Apa yang terjadi apabila ia jujur? Apa
mungkin sahabatnya itu juga mempunyai perasaan yang sama sepertinya? Ya, semoga
saja.
Sore itu, sang lelaki tampan ini berniat untuk mengutarakan
perasaan yang selama ini ia pendam. Mereka sudah janji akan bertemu ditaman
kota pada pukul 17.00 pm.
Sang lelaki sudah berada ditempat bertemu saat pukul 16.30
pm. Karena ia harus menyiapkan mentalnya, menyiapkan segalanya agar ia
benar-benar siap untuk mengungkapkan perasaannya yang selama bertahun-tahun ia
pendam.
“emm, hai? Sudah lama ya?” Tanya perempuan yang baru saja
sampai ditaman kota tersebut, ia bertanya kepada laki-laki yang sedang duduk
dibangku taman yang memang ia ketahui sang lelaki sedang menunggunya.
Lelaki itu menoleh kebelakang dan ternyata gadis yang ia
tunggu sudah berada dibelakangnya, dengan memberikan senyum, “eh, iya hai.. enggak
ko, baru. Ayo duduk sini,” jawabnya sangat lembut sekali.
Gadis itu hanya tersenyum dan segera duduk disamping lelaki
yang sudah duduk sedari tadi. Saat ini mereka hanyalah ditemani dengan
keheningan.
“oh iya, eee.. a..da yang gu..gue mau omongin sama lo ra,”
gadis itu Tiara, gadis yang cantik, tinggi, rambut yang sedikit piring, mata
yang indah dan kulit sawo matang yang menambah terlihat manis. sangat dekat
dengan sempurna.
Tiara hanya tersenyum, senyuman manis nan indah yang hanya
dimiliki Tiara, “ngomong apa thir?” dan pria yang ada disamping tiara saat ini
itu bernama fathir, sahabat kecilnya Tiara yang tampan, manis, tinggi dan kulit
yang putih. Sebelum ada yang memulai bicara, mereka hanya saling menatap
ditemani oleh keheningan.
‘lo harus bisa, lo harus bisa. Dan lo pasti bisa thir’ batin
fathir teriak, seakan menyemangati dirinya sendiri, “gu..gu..gue...” fathir
bicara dengan sangat gugup karena ketakutan itu seakan-akan sudah berada
dihadapan fathir, sesekali ia menelan ludahnya sendiri, ‘ah, shit! Susah banget
sih!’ batinnya lagi yang bicara.
“lo kenapa?” tanya Tiara antusias, ia sangat penasaran apa
kelanjutan dari yang fathir bicarakan?
Fathir tertegun mendengar suara Tiara yang begitu
lembut,”emm... gu..gue. su..ka. sama. Lo.” Dan akhirnya, kalimat tersebut itu
pun keluar dengan gugupnya, Tiara hanya memandang fathir dengan wajah yang sama
sekali fathir tidak tau, apa arti tatapan Tiara saat ini? Apa ia marah? Matanya
sudah mulai berkaca-kaca, seakan buliran permata cair itu akan turun membasahi
pipi gadis yang ada dihadapannya sekarang.
“ma..maaf, gue tau ko seharusnya gue gak..gak seharusnya gue
punya perasaan itu ke elu, dan seharusnya gue gausah ngomong sejujurnya sama
lo, maafin gue. Gue tau ini tuh salah gue,” Jelas Fathir karena tak ingin
Tiara, sahabatnya serta gadis yang ia cintai itu marah kepadanya dan menjauh
darinya.
Pipi Tiara saat ini pun sudah dibanjiri oleh butiran mutiara
putih cair yang berasal dari mata indahnya namun ia masih tetap menatap Fathir
dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Ada apa sebenarnya? Kenapa Tiara
menangis? Fathir membalas tatapan Tiara, karena ia tahu pasti ada sesuatu yang
ingin Tiara sampaikan kepadanya.
Selang beberapa menit setelah Fathir mengungkapkan
perasaannya itu, tiara mendekap Fathir dan meneggelamkannya didada bidang
Fathir, “gu..gue juga punya perasaan yang sama kaya lo, ta....ta...pi..”
tangisan tiara semakin menjadi saat ia mendekap Fathir, entah apa yang terjadi
sama Tiara.
“tapi apa ra? Kita sama-sama cinta, kita coba jalanin ini
ya?” Fathir merenggangkan pelukannya dan menatap nanar Tiara.
Tiara masih menangis dengan sejadi-jadinya hingga ia susah
untuk bicara, “ta..tapi... gu..gue gak bisa,” masih dengan keadaan menangis,
Tiara langsung berlari kencang meninggalkan Fathir, mungkin ia pulang.
“TIARAAAA!!!!!!!” teriak fathir dengan lantang, dan tanpa
disadari Fathir juga mengeluarkan buliran mutiara putih cair itu dari matanya.
‘Tiara kenapa? Ada Apa dengan Tiara? Gue pasti bisa merjuangin Tiara, karena
gue juga tau Tiara Cinta sama gue’ batin Fathir seakan sangat ingin mengetahui
kenapa Tiara meninggalkannya? Mungkin nanti ia akan kerumah Tiara.
***
Dua hari sudah berlalu dari kejadian yang kemarin terjadi
ditaman, dan siang ini Fathir beniat untuk mengunjungi rumah Tiara dan
menanyakan apa yang terjadi kemarin?
TINGNOG.... TINGNONG...
Bell yang Fathir tekan itu berbunyi namun masih belum ada
orang yang membuka kan pintunya, dan terlihat juga rumah itu sangat sepi
seperti tidak berpenghuni.
“kok kaya gak ada orang ya?” sesekali Fathir mengintip isi
rumah itu dari sela-sela jendela yang berada dekat dari pintu yang ia tunggu
untuk dibukakan oleh sang pemilik rumah,
Akhirnya pintu rumah itu terbuka, namun yang membukanya itu
adalah asisten rumah tangga nya bukan sang pemilik rumah, “nyari siapa ya mas?”
tanyanya.
“saya mencari Tiara bu, Tiaranya ada?” Fathir menjawab
dengan sangat sopan, dan sang asisten itu menatap Fathir dan tatapan itu
seperti tatapan kesedihan atau mungkin? Tatapan menginterogasi? Fathir bukanlah
orang yang ahli untuk meng-artikan sebuah tatapan dari seseorang.
Asisten rumah tangga itu kemudian tersenyum, “mas siapanya
non Tiara? Temennya?” memang benar, seperti maling yang sedang di Interoasi.
Pantas saja si, karena Fathir memang sebelumnya tidak pernah main kerumah
Tiara, bisa dibilang ini pertama kalinya ia mengunjungi rumah tiara, “emm, iya
bu saya temannya.” Jawabnya dengan senyum dibelakang kalimat tersebut.
“oh, non Tiara sudah pergi keParis sejak kemarin sore mas.
Memangnya dia tidak pamitan dengan mas?” kata ‘sudah pergi ke Paris sejak
kemarin sore’ itu sangat mengagetkan bagi Fathir, ‘kenapa dia gak bilang sama
gue?’ pertanyaan itu keluar dari dalam hatinya.
“mas?” tidak ada respon dari Fathir untuk pertama kalinya.
“Mas!” dan yang kedua pun tidak ada respon sama sekali dari
Fathir, “MAS!” yap, yang ketiga barusan mampu menyadarkan Fathir dari
lamunannya.
Fathir mendongak dan langsung pergi tanpa berpamit terlebih
dahulu, ia langsung masuk kedalam mobil sportnya itu dan melajukannya dengan
sangat kencang. “dasar anak muda,” cibir sang asisten rumah tangga itu kepada
Fathir yang sudah menghilang dari pandangannya.
Disebuah apartemen mewah, tempat untuk keluarga seorang
gadis cantik ini sedang melamun dibalkon apartemennya. Apartemen yang berada
dikota besar, Paris. Iya, Tiara gadis itu. Ia mengingat apa yang ia lakukan
sekarang? Kenapa ia menurut diajak untuk ke Paris? Padahal ia diparis tidak
melakukan aktivitas apapun, ia hanya menemani ayah-bunda nya berbisnis dengan
kerabatnya disini, diparis.
“bintang, hhhh” bintang? Kebetulan diParis saat ini sudah
masuk jam malam maka dari itu terdapat bintang, dan saat Tiara melihat bintang
ia jadi mengingat masa-masa kecilnya dengan sang sahabat laki-lakinya, Fathir.
-
Flashback on -
Malam itu, Tiara dan keluarganya sedang mengadakan acara
barbeque bareng dengan keluarga Fathir. Anggota keluarganya sibuk akan apa yang
ingin mereka panggang, menyiapkan bahan-bahannya, kebetulan Fathir dengan Tiara
adalah anak tunggal jadi ia sangat dekat sekali.
Malam sudah tiba, sudah menunjukkan pukul 21.00 pm. “Tiara,
liat deh. Bintang jatuh tuh, kita berdo’a yuk,” mereka pun berdoa yang isinya
sama-sama ingin bersama untuk selamanya.
“aku udah do’a dong,” pamer Tiara kepada Fathir, “aku juga,
semoga bisa terkabulkan AMIN.” Ucap Fathir yang sedang berusia 5 tahun, dan
Tiara pun juga 5 tahun.
-
Flashback Of -
Pipi Tiara mulai dijatuhi oleh bulir-buliran air yang keluar
dari matanya, “Fathir, gue bakal balik ke Indonesia demi kita, iya kita! Karena
gue juga sayang sama lo,” Ucapnya sambil menyeka air mata nya yang kini sudah
membasahi pipinya, ‘andai disini ada lo, pasti lo udah ngapus air mata gue’
hatinya Tiara bicara seakan ia merindukan sosok Fathir yang selalu ada disampinganya
sejak kecil sampai mereka sekarang sudah lulus kuliah dengan gelar S2 dibidang
sastra Inggris, “gue janji! Tunggu gue,”sambungnya dengan senyum termanis yang
selalu ia berikan kepada Fathir, orang yang ia sayang dan juga ia cintai.
Sementara, Fathir yang berada di Jakarta, Indonesia. Juga
sedang menatap bintang dari balkon kamarnya itu. Dan tanpa disadari pun ia
meneteskan air matanya lagi, entah untuk yang berapa kali. “Bintang... gue
kangen lo Tiara.” Fathir mengucapkannya dengan memejamkan matanya dengan sangat
tenang.
-
Flashback on -
Malam itu, Tiara dan keluarganya sedang mengadakan acara
barbeque bareng dengan keluarga Fathir. Anggota keluarganya sibuk akan apa yang
ingin mereka panggang, menyiapkan bahan-bahannya, kebetulan Fathir dengan Tiara
adalah anak tunggal jadi ia sangat dekat sekali.
Malam sudah tiba, sudah menunjukkan pukul 21.00 pm. “Tiara,
liat deh. Bintang jatuh tuh, kita berdo’a yuk,” mereka pun berdoa yang isinya
sama-sama ingin bersama untuk selamanya.
“aku udah do’a dong,” pamer Tiara kepada Fathir, “aku juga,
semoga bisa terkabulkan AMIN.” Ucap Fathir yang sedang berusia 5 tahun, dan
Tiara pun juga 5 tahun.
-
Flashback Of -
Fathir pun mengakhiri aksinya dibalkon karena sudah malam
lalu masuk ke kamar untuk tidur, dan berharap ia mimpi bertemu dingan Tiara dia
suatu tempat yang indah.
***
2 Tahun berlalu, singkat cerita. Tiara, yang saat ini sedang
berada diParis berniat hari ini untuk pulang ke Indonesia negara kelahirannya.
“I’ll comeback Indonesia, and I’ll Cameback for you boy!” Tiara, gadis cantik
itu pulang ke Indonesia hanya sendiri karena ayah-bundanya masih harus mengurus
bisnis keluarga mereka diParis.
Tiara saat ini sudah didalam pesawat, ia sangat bahagia bisa
pulang ke Indonesia karena ia sangat merindukan suasana Indonesia lebih
tepatnya Jakarta, kota kelahirannya itu.
Disuatu gedung perusahaan pria tampan ber-Jas hitam itu
benar-benar sangat frustasi, frustasi karena apa? Karena pekerjaan yang begitu
sulit, dan hal yang lebih berat lagi... ia sangat lelah untuk menunggu gadis
yang sudah 2tahun ini ditunggunya. Yes, He waiting someone. Fathir, lelaki itu
Fathir.
Dilema besar saat ini sedang mendatangi Fathir, ia ‘Jatuh
Cinta’ lagi kepada kerabat kantornya yang bernama Lita, gadis cantik, sexy, tinggi,
berwawasan tinggi, dan rambut ombre yang sangatlah indah, bahkan Lita mungkin
adalah gadis masa kini yang menjadi idaman kaum adam.
Sudah 3bulan ini Fathir dekat dengan Lita, bahkan mereka
sering Jalan, Nonton, makan, hang-out bareng, beruda. Perlu ditekankan,
Ber-Du-A.
Mereka sangatlah dekat, Fathir sudah merasa nyaman dengan
Lita namun Cintanya terhadap Tiara juga sangatlah besar.
Malam ini, Fathir berniat untuk mengajak Lita Jalan dan
mungkin Fathir akan mengutarakan perasaannya kepada Lita karena menurut Fathir,
Tiara tidak akan lagi kembali ke Indonesia. Tapi, dugaan Fathir salah.
Tepat jam 19.00 pm Fathir kerumah Lita menggunakan mobil
sportnya, Lita sudah keluar dari rumahnya lebih tepatnya Kost-an bukanlah
Rumah, karena Lita bukan orang asli Jakarta ia hanya merantau.
“hai, kamu cantik.” Sapa Fathir kepada Lita dengan gaya
bahasa aku-kamu. Sedangkan dengan Tiara? Lo-Gue, karena mereka sudah mengenal
sejak kecil. Lita, merasa tersanjung dengan ucapan Fathir, dan dia tersipu
sehingga pipi kanan kirinya sudah memerah. Sangat lucu kalau seorang gadis
sedang digoda.
Fathir terkekeh melihat tingkah Lita yang hanya
senyum-senyum gajels tanpa melakukan aksi apa-pun. “ayo, masuk Lit.” Fathir
mempersilahkan Lita masuk ke mobilnya dan membukakan pintu Lita seperti halnya
Putri-putri sang raja yang keluar dari Istana dan akan memasukkan mobil
mewahnya.
“emm, makasih.” Ucapnya dengan senyum manis yang membuat
Fathir meleleh, dan sekarang seakan-akan Fathir Lupa dengan Tiara. Iya Tiara
sahabat kecilnya.
Selama diperjalanan, mereka –Fathir&Lita- hanya ditemani
keheningan dan sesekali Fathir melirik Lita yang memandang kedepan, melihat
mobil lalu-lalang dan melihat kemacetan yang sudah menjadi kebiasaan Ibu Kota
Indonesia ini.
“Lit..” Fathir memulai pembicaraan ditengah keheningan dan
ditengah kemacetan akhirnya terpecahkan, Lita menoleh kearah suara yang
memanggilnya dan tersenyum dengan disertakan gumaman lembut, “ada yang mau aku
omongin,” sambung Fathir dengan hati-hati.
Lita sekarang menatapnya dengan serius, “apa?” jawabnya
singkat dengan mata masih memandang Fathir dengan serius.
“emm, aku suka sama kamu. Will you be my girl friend?”
Untung saja saat ini masih ditengah kemacetan, jadi dengan leluasa Fathir bisa
mengungkapkan perasaannya dengan menggenggam kedua tangan lembut milik Lita.
Lita tersenyum dan tidak lama dari itu pun ia mengangguk
pelan, “iya, aku mau. Yes, I do.” Jawabnya lantang dan pasti. Saat ini Lita
sudah berada didekapan Fathir, sang kekasihnya. Dan Fathir dan Lita saat ini resmi
menjadi sepasang kekasih.
“WELCOME INDONESIA!!!!!!” teriak Tiara dengan kedua
tangannya dilebarkan ke kanan dan kiri seakan ia baru keluar dari penjara dan
rindu akan menghirup udara segar. Tiara langsung mengotak-ngatik ponselnya dan
mencari kontak bernama ‘Fathir :*’ sejak diParis, ia tidak pernah memegang
ponselnya. Dan setelah ketemu ia langsung menelponnya dengan senyum yang
mengembang,
‘Nomer yang anda tuju
berada diluar jangkauan atau tidak aktif cobalah beberapa saat lagi,”
Begitulah suara yang Tiara dengar hingga senyumnya memudar
terganti dengan wajah sedih, “dia ganti nomer? Udah lupa kali ya sama gue”
Tiara bicara sendiri kepada dirinya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, namun
sebelum air itu meluber ia segera menyekanya dan mengembalikan senyumnya yang
saat itu juga luntur, “Jangan negativ thinking Ra, keep calm.” Ucapnya
menyemangati dirinya sendiri.
Ia memberhentikan Taxi dari bandara dan ia tidak langsung
kembali kerumahnya, tapi ia kesuatu cafe untuk sekedar makan makanan ringan dan
minum floatcola atau semacamnya itulah.
Perjalanan dari bandara menuju cafe lumayan jauh, bisa
menempuh waktu 2jam. Karena kemacetan juga, kalau tidak macet mungkin bisa
ditempuh dengan waktu 1 jam lebih 30menit.
Selama diTaxi, Tiara hanya melihat luar jendela. Melihat
kemacetan, “Kalau diparis pasti tidak macet, Indonesia” dia terkekeh dengan
ucapannya sendiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.
Sementara Fathir ia sedang tertawa bahagia, bercanda bersama
gadis yang sudah menjadi kekasihnya sekarang, Lita. Mereka pasangan baru, yang
masih hangat dan masih romantis. Sesekali mereka saling suap-meyuap makanan
yang mereka pesan, bahkan Fathir sesekali mencubit hidung Lita yang mancung
itu.
Lita juga merasakan hal yang sama dengan Fathir, rasa bahagia,
senang, campur aduk banget. “ini, kamu cobain.” Kata Lita sambil menyodorkan
kwetiau goreng yang ia pesan ke mulut Fathir, dan Fathir pun menurutinya ia
membuka mulutnya dan menelan kwetiau yang disuapi oleh Lita barusan, “gimana?
Enak kan?” Fathir hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan Lita barusan.
Fathir sesekali meminum minuman yang ia pesan dan melirik
Lita yang sangat lahap menyantap makanan yang ia pesan, Lita berkpribadian yang
sangat Lucu dan dia apaadanya. Itu yang membuat Fathir ‘jatuh Cinta’ kepadanya.
Namun disisi lain, Fathir masih mengingat-ngingat Tiara, ia masih ‘waiting’
Tiara. Tapi kapan Tiara kembali ke Indonesia?.
***
Keesokan harinya seperti biasa Fathir menjemput Lita untuk
berangkat ke Kantor bersama, “Hai, selamat pagi sayang,” Ucap Fathir sambil
mencium kening Lita dengan lembut.
“Iya, Pagi juga sayang. Udah sarapan?” gaya bahasa mereka
berganti menjadi ‘sayang’ maklum saja, pasangan baru.
Fathir mengangguk pelan lalu tersenyum dan dengan segera ia
membukakan pintu mobilnya untuk Lita, kebiasaannya memang seperti ini. “Kita
langsung ke Kantor?” Fathir bertanya kepada Lita sambil melihat arlojinya yang
sedang menggelantung dilengannya. Lita mengangguk dan tersenyum tipis.
Diperjalanan mereka sangat asik mengobrol, bercandaria
bahkan tertawa lepas. Pasangan yang bahagia, namun ditengah kemacetan. Fathir
seperti melihat Tiara yang sedang berada didalam Taxi, hingga dia terkaget,
‘itu Tiara? Apa benar?’ batinnya bertanya-tanya.
“kamu liat apa sayang?” Fathir terkaget saat mendengar
suara, ia lupa bahwa sekarang ia sedang bersama Lita, kekasihnya. Fathir
menggeleng dan tersenyum getir. Macet sudah terlewati dan sekarang jalanan yang
mereka lewati sangat lancar. Dan keheninganpun muncul.
Fathir masih teringat-ingat wajah Tiara, dan apa yang diTaxi
tadi Tiara? Atau hanya halusinasinya saja karena ia sangat rindu terhadap
Tiara? Tapi tidak mugkin, itu memang Tiara. Dan Tiara sudah pulang dari Paris
sejak kemarin malam.
Mereka sudah sampai dikantor, dan jalan terpisah setelah
naik lift ke lantai 4. Karena ruangan mereka berbeda, Fathir kearah kanan
sedangkan Lita kearah Kiri.
Didalam Taxi, gadis cantik berambut pirang ini tiba-tiba
menangis. Entah apa yang ia tangisi. “Tadi Fathir? Bersama siapa dia?” ucapnya
pelan nyaris tak terdengar, ternyata gadis itu Tiara. Gadis yang berada didalam
Taxi itu melihat Fathir dan mengikuti Fathir sampai kantornya dan ia melihat
Fathir menggandeng gadis lain yang ia tak kenal, ‘apa itu kekasihnya?’ batinnya
seakan ingin teriak, karena ia kembali ke Indonesia itu untuk Fathir. Namun?
Fathir sudah menggandeng gadis lain? Sakitnya tuh disini *tunjuk dada*
“pak, ke jalan cempaka nomer 5 ya.” Ucapnya sambil sesenggukkan, ia masih
belum terima.
-
Flashback On -
“emm, hai? Sudah lama ya?” Tanya perempuan yang baru saja
sampai ditaman kota tersebut, ia bertanya kepada laki-laki yang sedang duduk
dibangku taman yang memang ia ketahui sang lelaki sedang menunggunya.
Lelaki itu menoleh kebelakang dan ternyata gadis yang ia
tunggu sudah berada dibelakangnya, dengan memberikan senyum, “eh, iya hai..
enggak ko, baru. Ayo duduk sini,” jawabnya sangat lembut sekali.
Gadis itu hanya tersenyum dan segera duduk disamping lelaki
yang sudah duduk sedari tadi. Saat ini mereka hanyalah ditemani dengan keheningan.
“oh iya, eee.. a..da yang gu..gue mau omongin sama lo ra,”
gadis itu Tiara, gadis yang cantik, tinggi, rambut yang sedikit piring, mata
yang indah dan kulit sawo matang yang menambah terlihat manis. sangat dekat
dengan sempurna.
Tiara hanya tersenyum, senyuman manis nan indah yang hanya
dimiliki Tiara, “ngomong apa thir?” dan pria yang ada disamping tiara saat ini
itu bernama fathir, sahabat kecilnya Tiara yang tampan, manis, tinggi dan kulit
yang putih. Sebelum ada yang memulai bicara, mereka hanya saling menatap
ditemani oleh keheningan.
‘lo harus bisa, lo harus bisa. Dan lo pasti bisa thir’ batin
fathir teriak, seakan menyemangati dirinya sendiri, “gu..gu..gue...” fathir
bicara dengan sangat gugup karena ketakutan itu seakan-akan sudah berada
dihadapan fathir, sesekali ia menelan ludahnya sendiri, ‘ah, shit! Susah banget
sih!’ batinnya lagi yang bicara.
“lo kenapa?” tanya Tiara antusias, ia sangat penasaran apa
kelanjutan dari yang fathir bicarakan?
Fathir tertegun mendengar suara Tiara yang begitu
lembut,”emm... gu..gue. su..ka. sama. Lo.” Dan akhirnya, kalimat tersebut itu
pun keluar dengan gugupnya, Tiara hanya memandang fathir dengan wajah yang sama
sekali fathir tidak tau, apa arti tatapan Tiara saat ini? Apa ia marah? Matanya
sudah mulai berkaca-kaca, seakan buliran permata cair itu akan turun membasahi
pipi gadis yang ada dihadapannya sekarang.
“ma..maaf, gue tau ko seharusnya gue gak..gak seharusnya gue
punya perasaan itu ke elu, dan seharusnya gue gausah ngomong sejujurnya sama
lo, maafin gue. Gue tau ini tuh salah gue,” Jelas Fathir karena tak ingin
Tiara, sahabatnya serta gadis yang ia cintai itu marah kepadanya dan menjauh
darinya.
Pipi Tiara saat ini pun sudah dibanjiri oleh butiran mutiara
putih cair yang berasal dari mata indahnya namun ia masih tetap menatap Fathir
dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Ada apa sebenarnya? Kenapa Tiara
menangis? Fathir membalas tatapan Tiara, karena ia tahu pasti ada sesuatu yang
ingin Tiara sampaikan kepadanya.
Selang beberapa menit setelah Fathir mengungkapkan
perasaannya itu, tiara mendekap Fathir dan meneggelamkannya didada bidang
Fathir, “gu..gue juga punya perasaan yang sama kaya lo, ta....ta...pi..”
tangisan tiara semakin menjadi saat ia mendekap Fathir, entah apa yang terjadi
sama Tiara.
“tapi apa ra? Kita sama-sama cinta, kita coba jalanin ini
ya?” Fathir merenggangkan pelukannya dan menatap nanar Tiara.
Tiara masih menangis dengan sejadi-jadinya hingga ia susah
untuk bicara, “ta..tapi... gu..gue gak bisa,” masih dengan keadaan menangis,
Tiara langsung berlari kencang meninggalkan Fathir, mungkin ia pulang.
“TIARAAAA!!!!!!!” ucap fathir dengan lantang, dan tanpa
disadari Fathir juga mengeluarkan buliran mutiara putih cair itu dari matanya.
‘Tiara kenapa? Ada Apa dengan Tiara? Gue pasti bisa merjuangin Tiara, karena
gue juga tau Tiara Cinta sama gue’ batin Fathir seakan sangat ingin mengetahui
kenapa Tiara meninggalkannya? Mungkin nanti ia akan kerumah Tiara.
-
Flashback Off -
Siang itu tepat pukul 13.00 pm, Lelaki ini, Fathir berniat
untuk kerumah Tiara. Fikirnya mungkin Tiara sudah kembali ke Indonesia.
‘Ting.....Nongg....’ suara belnya sudah ganti, karena 2tahun
yang lalu bunyinya tidak seperti ini.
‘Cklek’ Pintu terbuka, dan benar saja yang membuka adalah
gadis yang selama ini ia tunggu. Tanpa menunggu waktu lama, Fathir segera
mendekap Tiara dengan erat, “akhirnya lo balik juga, gue nunggu lo ra, gue
kangen lo,” ucapnya dengan nada yang bergetar.
Tiara merenggangkan pelukan Fathir, membuat Fathir
mengangkat alisnya sebelah. “ngapain lo kesini?” ucapnya begitu jutek, berbeda
dengan Tiara yang dulu.
“l...lo enggak kangen sama gu..gue?” ucapnya kembali gugup
seperti dulu.
Tiara hanya menatapnya tajam, ‘gue kangen sama lo, tapi..
perempuan itu? Siapa? Perempuan yang lo gandeng kemarin?’ batinnya meledak, dan
ingin menanyakan perihal itu kepada sang lelaki.
“Ra, lo kenapa ko berubah?” ucap Fathir heran sehingga kedua
alisnya beradu. Taiar tetap menatapnya dengan tajam, “lo kangen sama gue?
Bulshit!” ucapnya dengan nada setinggi 7oktaf, suarnya meninggi Fathir hanya
meringis aneh dengan perkataan Tiara dan tingkah laku Tiara sekarang.
“Lo kenapa si Ra?” bahkan Fathir tidak dipersilahkna masuk
kedalam rumahnya, Tiara melipat kedua tangannya tepat didada dengan tatapan tajam
kepada Fathir. “gue? Kenapa? Fikir dong! Gue kesini buat lo, tapi kemarin gue
liat lo mesra-mesraan dengan cewe lain? Gitu kelakuan lo?” Tangisan tiara
meledak dan semua unek-uneknya pun keluar.
Fathir hanya menatap sendu Tiara yang sekarang sedang menangis,
“maaf, maafin gue Ra. Gue salah, tapi gue masih Cinta sama lo. Itu yang bikin
gue ragu sama dia ---Lita---, dan sekarang lo balik, gua akan akhirin hubungan
gue sama dia sekarang.” Katanya sambil mengambil ponselnya dari saku celana dan
mencari kontak ‘Lita’ lalu segera menelponnya.
Tiara hanya menatapnya dengan air mata yang masih mengalir
deras dipipi-nya.
“Hallo..” suara Fathir getar. Dan sedikit terdengar suara
gadis dari sebrang sana yang menjawab sapaan Fathir barusan.
“iya, ada apa ya?”
“Gini ta, gue mau hubungan kita sampai sini aja ya. Maaf
sebelumnya, gue gamau nyakitin lu makanya gue mau kita bersahabat aja,
gapapakan?”
Lita memang gadis dewasa yang mengerti akan hal Cinta,
bahkan saat hubungannya dikhiri ia masih bisa tertawa, berbeda dengan Tiara
gadis manja namun mampu membuat Fathir rela menunggunya selama bertahun-tahun
demi Cinta yang abadi.
Akhirnya Fathir dan Lita resmi putus setelah seminggi ia
menjalin, merajut kasih bersama. Dan sekarang Fathir bahagia bersama Tiara.
“will you marry me?” pertanyaan itu, mampu mengubah tangis
sedih Tiara menjadi tangis haru bahagianya, dengan cepat ia mengangguk dan
tersenyum, “yes, I do. I can!” jawabnya tegas namun masih terbata-bata karena
tangisannya makin meledak.
Dan sekarang Fathir dan Tiara bahagia karena persahabatan
yang mereka bangun dari kecil, menjadi Istana yang sangat megah sekarang.
Kebahagiaan itu terasa sekali jika kita bersama dengan orang yang kita sayang.
‘Bahagia itu diri kita
sendiri yang menentukan bukan mereka, dia atau orang lain. Buatlah dirimu
bahagia, sebahagia mungkin dengan orang yang kamu sayangi.’
-SELESAI-
